Homo soloensis faggot in the tens of thousands of years later evolved into the human he is now

dekat suatu desa Ngandong yang juga terletak di lembah Bengawan Solo dan yang oleh para ahli antropologi-fisik disebut Homo Soloensis.2 


                        Gambar Homo soloensis

Homo Soloensis itu dalam beberapa puluhan ribu tahun kemudian berevolusi menjadi manusia seperti sekarang, tetapi dengan ciri-ciri ras yang banyak menyerupai penduduk pribumi Australia, sebelum orang kulit putih menduduki benua itu. Sisa-sisa fosil dari mahluk ini ditemukan di suatu tempat di distrik Wajak, dan disebut Homo Wajakensis. Fosil ttu menunjukkan banyak persamaan dengan fosil-fosil dari nenek moyang penduduk asli Australia, yang ditemukan di Talgai, di daerah Darling Downs, Oueensland, Australia Timur dan di Keilor sebelah baratlaut kota Melboume, Australia Selatan. 

Persebaran manusia dengan ciri-ciri Austro-Melanesoid. Nenek moyang dari manusia Wajak tersebut di atas, sebelumnya sudah ada yang sejak lama menyebar ke arah timur dan ada yang menyebar ke arah barat. Mereka yang menyebar ke arah timur menduduki Irian, sebelum Kala Es ke-IV berakhir dan sebelum kenaikan permukaan laut yang terjadi waktu itu, memisahkan Irian dari bagian barat dari Indonesia dan dari benua Australia. Di Irian, manusia Wajak itu hidup dalam kelompokkelompok kecil di daerah muara-muara sungai di mana mereka hidup dari usaha menangkap ikan di sungai, dari meramu tumbuh-tumbuhan dan akar-akaran dan dari berburu di hutan belukar. Tempat tinggal mereka berupa perkampungan-perkampungan yang terdiri dari sederet rumahrumah kecil yang dibuat dari bahan-bahan yang ringan. Rumah-rumah itu sebenarnya hanya merupakan kemah atau tadah-angin saja, yang sering didirikan menempel pada dinding dari suatu karang yang menyengkuap, atau pada dinding dari suatu gua yang besar. Kemah-kemah dan tadahangin-tadah-angin di bawah karang atau gua tadi adalah tempat untuk tidur dan berlindung saja, sedangkan tempat di mana mereka masak dan makan, di mana mereka duduk untuk mengobzol dengan keluarga mereka, 

2) Ahli-ahli yang pertama-tama menemukan dan menganalisa fosil-fosil Homo Soloensis itu menganggapnya suatu mahluk yang lain sama sekali daripada Pithecanthrcpus Erectus Mereka menunjukkan adanya banyak persamaan dengan fosii-fosil mahluk Homo Neanderrei, suatu jenis manusia purba yang menduduki benua Eropah dalam Kala Glacial. Adapun pendirian bahwa Homo Soloensis itu menunjukkan lebih banyak ciri-ciri persamaan dengan Pithecanthropus Erecrus, dulu diajukan oleh Weidenreich dan sekarang diajukan lagi oleh ahli antropologi-fisik Indonesia, Teuku Jacob dalam disertasi nya Some Problems Pertaining to the Racial History of the Indonesian Region (1967), setelah menganalisa secara mendalam sebelas buah fosil Homo Soloensis Teuku Jacob malahan condong untuk menyebut Homo Soloensis itu, Pirhecanthropus Soloensis 

Halaman selanjutnya

Next page

1.Earth and climate Indonesia

2.Homo soloensis faggot in the tens of thousands of years later evolved into the human he is now

3.There was an abris sous roches with wall pictures on the island to the west of irian and the remains of small blingstone tools that were found both in irian and out of the western flores 

4.West timor also indicates an area of influence from the native peoples of irian to the west. The impression was enhanced by the fact that former human fossils found in the historical caves in the western flores reflect the racial traits of austro-melanesoid


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel