20 Pantun Cinta Bahasa Indonesia

20 Pantun Cinta Bahasa Indonesia

Air arak diharamkan,

karenanya banyak nyawa melayang.

Meskipun jarak memisahkan,

semua itu bukan penghalang.



 

Kalau ikan di dalam kolam,

bunga tumbuh di tengah taman.

Kalau cinta sudah dalam,

jarak jauh terasa nyaman.


 

Langit biru terlihat sendu,

warna hijau biru dan semu.

Jarak jauh tumbuhkan rindu,

ingin selalu dekat denganmu.


 

Burung melayang burung nuri,

hingga sebentar di pohon kenari.

Kasih sayangku amat murni,

seperti embun di pagi hari.

 

berlabuh orang menunggu,

hendak berlayar ke Siantar.

Kalau jauh terasa rindu,

jika berjumpa terasa sebentar.

 

 

Ambil bambu buat sembilu,

terbang debu dari cerutu.

Namamu kusebut selalu,

dalam doa setiap waktu.


 

Belajar lukis dengan pensil,

mengapa kertas tidak rata.

Semoga engkau berhasil,

meraih segala cita-cita.


 

Bunga kenangan di selasar,

hadiah dari Raja Tuban.

Kasih semakin sayang besar,

melihat engkau banyak berkorban.


 

Patah dahan disambungkan,

hendak hati disatukan.

Kepada Tuhan kita mohonkan,

agar cepat dipertemukan.


 

Beribu-ribu para pelukis,

hanya satu memakan roti.

Beribu-ribu cewek yang manis,

hanya engkau di dalam hati.


 

Syair puisi pantun dan madah,

pujangga ciptakan sepenuh rasa.

Engkau tetap yang terindah,

dalam hidupku sepanjang masa.


 

Surya terbit datanglah pagi,

terbit dari Tanjung Meranti.

Hanya untukmu cinta ini,

tetap untukmu hingga nanti.


 

Bunga wangi bernama selasih,

tumbuh liar di pinggir kali.

Saat dirimu curahkan kasih,

hidup hampa gairah kembali.


 

Pinggir sungai banyak nipah,

sayang airnya terasa sepah.

Kasih sayang semakin berlimpah,

jadikan hidupku semakin indah.


 

Anak kecil jadi pemayang,

malam hari menonton wayang.

Ketahuilah wahai sayang,

cinta ini penuh kasih sayang.


 

Pita merah panjang sekilan,

jatuh satu ke dalam rantang.

Cintaku bagaikan rembulan,

dipagari bintang-bintang.


 

Dari jauh para tamu,

datang untuk mencari ikan.

Izinkan aku mencintaimu,

cinta sepanjang putaran zaman.


 

Sungguh indah Ujung Pandang,

indah pula Kota Pinrang.

Dari awal beradu pandang,

wajahmu terbayang-bayang.


 

Prajurit jalan berselang-selang,

berkicau keras burung kutilang.

Dari dulu hingga sekarang,

cinta hakiki tak pernah hilang.


 

Gunung Jati anak Rara Santang,

dikasihi juga disayang.

Walau banyak godaan datang,

teguh diriku tak pernah goyang

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel